Curug Caweni

Terletak di Kampung Cilutung, Desa Cidolog, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat Curug Caweni memiliki ketinggian terjunan air sekitar 15 m.  Salah satu ciri khas Curug Caweni adalah adanya sebuah batu setinggi 7 m yang terdapat di tengah-tengah air terjun.  Konon batu tersebut adalah Arca Caweni, putri yang pernah berkuasa di Cidolog.  Nama Caweni atau cawene dalam bahasa sunda berarti ‘randa bengsrat’, janda yang masih suci karena berpisah sebelum melakukan hubungan intim dengan suaminya.

Fasilitas yang tersedia sudah ada seperti, lokasi parkir dan WC serta tempat ganti pakaian, tetapi sayangnya pemeliharaannya tidak ada bahkan dibiarkan tak terurus. Selain itu ketiadaan, warung atau toko penjual makanan dan minuman pun sulit ditemui.  Satu-satunya penjual makanan dan minuman berada di jalan raya Cidolog, sekitar 200 meter sebelum ke Curug Caweni.  Oleh karena itu disarankan membawa bekal jika ingin berwisata ke tempat ini.

Masyarakat Cidolog, dan juga masyarakat Pajampangan pada umumnya, meyakini bahwa patung batu setinggi tujuh meter itu merupakan hasil perubahan wujud Nyi Caweni atau Putri Caweni.  Dalam cerita rakyat yang berkembang di Cidolog, Nyi Caweni adalah perempuan cantik jelita yang telah menikah 99 kali. Dari jumlah itu, 98 suaminya dikisahkan meninggal dunia pada malam pertama. Yang lolos dari “maut di malam pertama” hanyalah suaminya yang terakhir, Raden Boros Kaso.  Berbeda dengan suami-suami Nyi Caweni sebelumnya yang hanya orang-orang biasa, Boros Kaso adalah seorang keturunan bangsawan kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia, kesatria yang berilmu tinggi. Setelah mengetahui jejak rekam Nyi Caweni, ia melewatkan malam pertama dengan sangat waspada.

Boros Kaso memutuskan untuk tidak melakukan hubungan intim pada malam pertama, dan ia pun tidak tidur untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Malam pertama dan malam kedua, tak ada apa-apa. Barulah pada malam ketiga. Boros Kaso menemukan jawaban atas misteri istrinya. Ketika Nyi Caweni sedang tidur, dari selangkangannya tiba-tiba keluar seekor ular berbisa.   Boros Kaso yakin itulah penyebab kematian beruntun itu.  Dengan kesaktiannya, Boros Kaso lalu menangkap sang ular dan menyimpannya di suatu tempat.

Pagi hari selepas sarapan, Boros Kaso berpamitan kepada istrinya. Sebagai seorang kesatria, ia tak bisa mengelak dari tanggungjawab untuk mendahulukan kepentingan umum.  Untuk itu ia harus pergi demi menyelesaikan tugas yang diamanatkan kepadanya. Boros Kaso berjanji akan kembali kepada Nyi Ca-weni.  Namun ia juga berpesan jika dalam waktu tertentu ia belum juga datang, dia mempersilakan Nyi Caweni untuk menyusulnya. Jika Nyi Caweni menemukan tapak kaki Boros Kaso pada batu, ia harus menunggu di sana meski dalam waktu yang sangat lama. Dengan penuh cinta, meski jelas berat hati, Nyi Caweni melepas kepergian suaminya.

Waktu berlalu, akhirnya Nyi Caweni memutuskan untuk menyusul Boros Kaso yang tak kunjung datang. Dia berjalan menyusun sungai yang kini dinamakan Ci Dolog. Di sungai itu, di sebuah air terjun, ia menemukan jejak tapak kaki orang yang dicarinya. Nyi Caweni sangat yakin itu adalah jejak suaminya dan ia pun memutuskan untuk menunggu di sana. Menunggu sangat lama hingga tubuhnya berubah menjadi batu yang kini disebut arca Putri Caweni. Curug caweni merupakan salah satu objek wisata air terjun yang ada di Indonesia

.